Mempersiapkan mesin tetas telur walet

Penetasan telur walet menggunakan mesin tetas merupakan usaha budi daya walet  secara aktif atau intensif. Maksudnya, pelaku budi daya walet tidak hanya menunggu (pasif) gedung waletnya didatangi walet dari gedung walet lain, tetapi secara aktif melakukan penetasan telur walet. Cara penetasan telur dengan bantuan mesin tetas merupakan jalan pintas dalam usaha meningkatkan populasi walet. Orientasi penetasan telur dengan mesin tetas adalah untukk menghasilkan anak atau piyik walet. Hasil penetasan telur ini selanjutnya akan ditempatkan di sarang sriti. Metode ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan cara penggantian telur sriti dengan telur walet. Hanya, untuk  lebih menyakinkan bahwa usaha penetasannya berhasil, pelaku budi daya melakukannya dengan mesin tetas.

Menurut penulis sebagai penyedia telur walet, sebenarnya fungsi utama mesin tetas bukan untuk menetaskan telur walet sampai menghasilkan anak walet, tetapi hanya sebagai alat bantu (transit) telur walet sebelum dimasukkan ke sarang sriti (ganti telur). Hal ini disebabkan jika telur walet yang sudah diambil dari sarang walet tidak segera dimasukkan ke mesin tetas, dikhawatirkan telur yang terlalu lama di tempatkan di luar mesin tetas menjadi rusak dan daya tetasnya rendah. Telur walet hanya toleran atau bisa bertahan di luar mesin tetas selama 2-4 hari.

Populasi walet baru

Setelah anak walet bisa terbang dan mampu mencari pakan sendiri, induk sriti akan pergi meninggalkannya. Sementara itu, anak walet yang telah diasuh sriti tetap menempati sarang tersebut untuk berkembang biak dan membuat sarang. Tidak mengherankan jika kita masuk kedalam gedung walet sering terlihat sarang sriti yang tercampur dengan liur atau sarang walet. Sarang campuran inilah yang dihasilkan oleh walet karena perlakuan budi daya ganti telur. Harga sarang campuran ini lebih murah dibandingkan dengan sarang walet putih (tanpa campuran bahan).

    Sebaiknya penggantian telur dilakukan ketika jumlah populasi sriti sudah cukup banyak. Tujuannya, agar populasi yang dihasilkan juga cukup banyak. Meskipun demikian, hal ini tidak bisa dijadikan patokan. Berdasarkan pengalaman penulis, dari anak walet yang menetas dari hasil ganti telur, jumlah populasi yang tetap tinggal hanya sekitar 10%-nya. Misalnya, pelaku budi daya walet memasang telur walet di sarang sriti sebanyak 100 pasang dan menetas semua, kemungkinan hanya tinggal 10 pasang yang masih tetap tinggal di gedung walet. Kisaran jumlah ini sudah bisa dianggap berhasil. Berdasarkan pengalaman penulis, Populasi walet yang tetap tinggal ini bisa di deteksi setelah 8-12 bulan dari telur walet menetas. Cara mendeteksinya adalah dengan melihat jumlah sarang walet baru di kerangka atau lagur langit-langit bangunan dalam waktu 8-12 bulan setelah telur yang dierami sriti menetas. Kemungkinan yang membuat sarang tersebut adalah  walet hasil penetasan lewat penggantian telur dengan bantuan sriti.

    Meskipun walet sudah bisa dibudidayakan atau dirumahkan, sifat dan perilaku hidupnya masih tetap liar. Sifat ini berbeda dengan burung-burung klangenan yang selama dipelihara bisa menjadi jinak. Sisa walet yang 90% kemungkinan akan jadi penghuni gedung walet lainnya. Menurut hemat penulis, 90% walet yang “hilang” itu bisa dianggap sebagai andil dalam pelestarian populasi walet agar tetap stabil, sehingga produksi sarang walet kita tetap optimal dan bisa meningkatkan sumber devisa Negara melalui perdagangan sarang walet.

Perawatan anak burung walet oleh induk asuh

Telur walet biasanya akan menetas 15-21 hari setelah dierami sriti. Saat telur menetas sangat tergantung dari kondisi atau umur telur ketika ditempatkan di sarang sriti. Jika telur walet masih berumur nol hari (baru diambil dari sarang walet) dan kondisinya masih muda, biasanya akan menetas setelah 21 hari. Namun, jika telur walet sudah berumur  lebih dari satu hari diambil dari mesin tetas (tua),  akan menetas kurang dari 21 hari. Setelah telur walet dimasukkan ke dalam sarang sriti, setiap satu minggu sekali harus dikontrol. Jika pada minggu pertama ditemukan telur yang rusak, retak, atau pecah, telur itu harus segera diganti dengan telur walet yang baru umurnya sama dengan yang diganti. Telur yang berumur sama bisa diperoleh dari pedagang atau pengepul telur walet yang ada di sekitar lokasi bangunan gedung walet.

Ketika telur sudah memasuki masa tetas, pelaku budi daya kembali harus mengontrolnya. Jika di sarang sriti hanya ditemukan satu butir telur walet yang menetas, pembudi daya bisa menggantin telur walet yang tidak menetas dengan piyik walet. Harus diusahakan piyik pengganti ini umurnya sam dengan piyik yang baru menetas. Penggantian piyik walet ini disebut tambal sulam.

Setelah anak walet menetas, induk sriti masih melanjutkan tugasnya untuk merawat dan memelihara “anak asuhnya” sampai piyik walet menginjak remaja, serta mampu terbang dan mencari makan sendiri.  Pelaku budi daya walet tidak perlu mencampuri kehidupan anak walet yang baru menetas sampai dewasa. Namun, harus mengontrol kondisi dalam ruangan (habitat mikro) bangunan rumah walet.

Dalam merawat anak walet, induk sriti memberikan pakan dengan cara menyuapinya. Dari mana makanan anak walet didapatkan? Induk sriti mencari makanan di areal  terbuka atau di areal persawahan dengan cara terbang. Pakan yang didapatkan kemudian dikumpulkan di mulut si induk.

Setelah mulutnya penuh, ia akan kembali ke sarangnya dan memberikan makanan yang disimpan di mulutnya kepada anaknya dengan cara dimuntahkan (disuapkan) ke mulut “anak asuhnya”.

Pemberian tanda telur walet dalam penggantian telur sriti

Biasanya, setelah mengganti telur sriti dengan telur walet, pelaku budi daya walet pemula memberi tanda berupa paku paying atau coretan dengan kapur tulis di sekitar sarang sriti. 

Tujuannya untuk membedakan antara sarang sriti yang sudah diganti telur dan yang tidak diganti. Sementara itu, untuk mengontrol telur walet yang sudah diletakkan di sarang sriti biasanya digunakan alat berupa cermin bulat yang diberi tangkai pipa aluminium.


Pengeraman dan penetasan telur walet

Pada musim penghujan, daya tetas telur walet umumnya lebih bagus atau lebih tinggi dibandingkan dengan pada musim kemarau. Hal ini disebabkan, pada musim penghujan kondisi di dalam ruangan gedung rumah walet cenderung lembap (sekitar 80%). Kondisi ini sangat diperlukan  untuk proses penetasan secara alami dengan cara dierami. Jika kelembapan yang diinginkan tidak tercapai, kandungan air di dalam telur tersedot ke luar, sehingga telur menjadi kering dan tidak bisa menetas.

    Di samping itu, pada musim penghujan, kebutuhan pakan burung berupa serangga kecil yang berterbangan di areal persawahan atau di areal terbuka cukup banyakk, sehingga berpengaruh positif terhadap proses pergeraman dan perkembangan embrio telur walet yang dierami. Pada musim kemarau, ketersedian pakan kurang dan induk cenderung terbang dalam jarak jauh dan waktu yang diperlukan untuk mengeram berkurang, sehingga mempengaruhi perkembangan embrio telur. Ketersedian pakan ini tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan telur. Saat telur menetas dan anak walet sudah lahir pun perlu ketersediaan pakan yang cukup. Prsoses tumbuh kembang anak walet yang kurang mendapatkan asupan pakan dari induk asuhnya akan terganggu. Lebih berbahaya lagi jika asupan pakan ini tidak tertangani, anak walet bisa mengalami kematian.

    Agar proses penetasan telur walet dengan bantuan induk sriti berlangsung tepat waktu, pelaku budi daya seharusnya bisa memperkirakan secara cepat umut telur yang dihasilkan sriti. Jika telur sriti masih muda diganti dengan telur walet tua, dikhawatirkan setelah telur menetas induk sriti merasa kaget dan enggan merawat anak walet yang baru menetas, sehingga dapat mengakibatkan kematian. Karenanya, telur sriti dan telur walet sebaiknya berumur sama atau mendekati sama. Dengan demikian, jika telur walet yang dierami menetas, sriti tidak tidak merasa curiga dan sifat keibuannya muncul, serta akan tetap merawat anak asuhnya.

Cara mengganti telur sriti dengan telur walet

Cara mengganti telur sriti dengan telur walet cukup mudah dan sederhana. Telur sriti yang masih berada di sarangnya  diganti dengan telur walet. Tujuan penggantian telur ini untuk mengelabui sriti agar mau mengerami telur walet sampai menetas. Di setiap sarang sriti di letakkan dua butir telur walet (yang beratnya sekitar 5,8 gram/butir). Hal ini berdasarkan jumlah telur yang dihasilkan oleh sriti yang nantinya akan mengerami telur walet sampai menetas. Jika penempatan telur walet jumlahnya kurang, kemungkinan si sriti curiga dan calon induk asuh ini enggan untuk mengerami. Untuk mendapatkan hasil terbaik, umur telur walet yang akan ditetaskan induk sriti kurang dari 4 hari atau kondisi telur masih baru (fresh). Telur yang umunya lebih dari 4 hari sebaiknya ditempatkan di dalam mesin tetas. Jika tidak, daya tetas telur cenderung rendah.

    Telur walet yang akan digunakan untuk mengganti telur sriti harus dalam keadaan fertil atau sudah mengandung embrio. Telur fertil ditandai dengan adanya titik hitam dan urat-urat halu yang bergerak mengelilinginya. Telur infertil atau tidak mengandung embrio ditandai dengan titik hitam tanpa ada urat yang bergerak mengelilingi. Di samping harus fertil, telur walet harus bagus dan tidak retak. Telur yang retak bisa mengundang kehadiran semut, cicak, dan tokek yang merupakan hama pengganggu bagi walet. Peletakan telur walet ke dalam sarang sriti sebaiknya menggunakan alat bantu seperti sendok nasi (centong) dan sarung tangan. Jika menggunakan dengan tangan telanjang dikhawatirkan sriti enggan mengerami karena telur walet “bau tangan”.

    Ketika memasukkan telur walet ke dalam sarang sriti posisi telur harus diperhatikan. Sebaiknya posisi telur harus sama dengan posisi telur sriti sebelum diganti telur walet. Waktu meletakkan telur walet ke dalam sarang sriti sebaiknya siang hari ketika sriti keluar mencari pakan. Namun, jika terpaksa memasukkan telur walet saat sriti masih berada di sarang pun tidak menimbulkan masalah. Pasalnya, saat telurnya  diganti, sriti akan terbang sebentar, kemudian kembali lagi.

Syarat penggantian telur sriti dengan telur walet

Budi daya dengan cara ganti telur bisa diterapkan jika gedung walet sudah dihuni sriti dan sriti sudah membuat sarang di kerangka-kerangka (lagur langi-langit) gedung walet. Bagaimana jika bangunan rumah walet belum ditinggali sriti? Dalam hal ini, pemilik gedung walet harus mengundang sriti terlebih dahulu. Cara mengundang sriti tidak berbeda dengan mengundang walet. Bahkan, cara mengundang sriti lebih mudah dibandingkan dengan mengundang walet. Hal ini disebabkan sriti memiliki sifat lebih bisa menolerir keadaan di sekeliling dan di dalam gedung walet, seperti suara gadung, kehadiran makhluk asing atau manusia, aroma yang cukup menyengat, serta bias suara yang masuk ke dalam ruangan gedung walet.

    Jika di dalam bangunan rumah walet  ternyata sudah hadir sriti dan sriti sudah menghasilkan sarang dan telur, pemilik bangunan rumah bisa mencari telur walet untuk ditukar  dengan telur sriti. Untuk mendapatkan telur walet, pemilik bangunan rumah walet bisa membeli di pedagang atau pengepul telur walet. Pengepul telur walet umumnya berasal dari kalangan pelaku budi daya walet. Di daerah Jawa Timur, harga telur walet pada tahun 2000-2002, sekitar Rp. 10.000-15.000 per pasang (dua butir). Namun jika persediaan telur sedang “banjir” (sekitar bulan September-November), harga telur bisa turun dari kisaran harga tersebut. Berdasarkan pemantauan penulis, harga telur walet termurah sekitar Rp. 7.000-8.000 per pasang dan termahal mencapai kisaran Rp. 24.000-25.000 per pasang.

    Sebelum telur walet dimasukkan ke dalam sarang sriti, sebaiknya diusahakan daerah sekitar sarang sriti bebas dari gangguan hama. Biasanya, di sekitar sarang sriti ditemukan kutu busuk dan semut merah (semut gatal). Kedua hama ini bisa mengganggu anak walet dan bisa mengakibatkan kematian. Untuk menghindari kehadiran kedua hama ini, di sekitar sarang sriti  bisa di semprot dengan obat pembasmi hama walet yang berbentuk powder(tepung) yang bisa dibeli di took penyedia sarana budi daya walet. Jika kondisi di sekitar sarang sriti bebas dari hama, pertumbuhan dan perkembangan anak walet dari awal sudah aman dari gangguan hama, kemungkinan besar anak walet akan betah tinggal di bangunan rumah walet.

    Hama lainnya adalah tokek dan tikus. Tokek dan tikus biasanya senang merusak sarang sriti. Dalam membasmi hama ini biasanya penulis menggunakan cara mekanis, yakni dengan membunuhnya.

Tujuan Penggantian Telur Walet

Tujuan penggantian telur sriti dengan telur walet pada prinsipnya untuk mempercepat kehadiran atau  menambah populasi walet di rumah atau gedung walet. Menurut pengalaman penulis, cara beternak walet dengan cara ganti telur ini tingkat keberhasilannya bisa mencapai 100% dibanding dengan cara penetasan telur menggunakan mesin tetas. 

Hal ini disebabkan kondisi suhu tubuh induk burung lebih konstan dan sesuai dengan perkembangan embrio telur dibandingkan dengan suhu di dalam mesin tetas yang cenderung tidak stabil.

Penetasan telur walet di sarang sriti

Kemungkinan walet pergi meninggalkan huniannya, yakni rumah atau gedung, setelah dilakukan pemetikan sarang, bisa saja terjadi. Persentase walet yang kabur bisa meningkat draktis jika pola panen atau pemetikan sarang tidak dilakukan secara cepat. Usaha mencegah walet kabur dari rumahnya pascapetik sarang selalu menjadi perhatian pemilik bangunan rumah. Salah satunya adalah memanfaatkan sriti sebagai “mesin tetas” alami telur walet. Sriti yang sudah menghasilkan sarang di bangunan  rumah walet dan sudah menghasilkan telur, sebaiknya dibiarkan hidup dan berkembang biak sehingga bisa dijadikan sarana budi daya walet, yakni dengan cara mengganti telur sriti dengan telur walet.

     Sriti sangat penting untuk mengembangkan populasi walet di dalam rumah/gedung walet. Jika hanya mengandalkan tumbuh kembang walet, penambahan populasi walet cenderung tidak terjadi. Hal ini disebabkan penambahan jumlah walet hanya cenderung menggantikan walet yang pergi meninggalkan rumah walet. Padahal, produksi sarang walet oleh pemilik bangunan rumah selalu diharapkan terus bertambah dari tahun ke tahun. Karenanya, penambahan populasi walet dengan cara mengganti telur sriti dengan telur walet diharapkan bisa meningkatkan produksi sarang. Cara penggantian telur ini sebenarnya hanya sebagai penunjang. Usaha untuk menambah populasi  walet sebenarnya sangat terkait dengan cara pemetikan sarang walet. Pemetikan sarang walet yang benar adalah pemetikan yang berdasarkan kepentingan regenerasi, yakni pemilihan waktu yang tepat dalam pemetikan, baik petik cara rampasan, buang telur, atau petik cara penetasan (setelah piyik walet terbang).

    Sriti yang masih satu kerabat dengan walet, oleh pelaku budi daya sudah lama dijadikan objek dalam perlakuan ganti telur. Hal ini disebabkan sriti memiliki perilaku hidup yang tidak jauh berbeda dengan perilaku walet. Dalam menghasilkan telur, sriti dan walet sama-sama menghasilkan dua butir telur. Begitu pula dengan sosok anak atau piyiknya, antara anak sriti dan walet sangat mirip, hingga sriti tidak bisa membedakan atau mengenali anak walet dengan anaknya sendiri.

Cara mendapatkan telur walet

Ada beberapa cara untuk mendapatkan telur walet. Berikut ini cara mendapatkan telur walet untuk kepentingan penetasan menggunakan mesin tetas untuk mengganti telur sriti atau putar telur.

1.    Membeli dari pembudi daya walet yang panen sarang dengan cara buang telur. Telur yang diperoleh dari cara ini volumenya cukup besar. Saat panen sarang walet, si pembudi daya tidak membutuhkan telur untuk ditetaskan. Di samping itu, telur walet bisa didapatkan dari pemilik gedung walet yang di dalamnya sudah terisi burung sriti  tetapi belum menghasilkan telur.
2.    Membeli dari pedagang atau supplier telur walet. Dalam hal ini penulis mendapatkan pasokan telur dari beberapa pedagang dari Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.
3.    Memperoleh telur walet dari bangunan rumah walet milik sendiri. Pengambilan telur walet umumnya dilakukan setelah pemetikan atau pemanenan sarang walet. Dalam hal ini, sebagian besar telur walet ini diperoleh dari bangunan rumah walet yang sudah menghasilkan sarang dengan jumlah cukup banyak, yakni di atas 5 kg.

    Kualitas telur walet yang dihasilkan pada musim kemarau berbeda  dengan yang dihasilkan pada musim penghujan. Telur yang dihasilkan pada musim kemarau biasanya kualitasnya kurang bagus dibandingkan dengan telur yang dihasilkan pada musim penghujan. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan pakan burung kurang dibandingkan dengan pada musim penghujan. Kualitas telur ini akan berdampak pada harga jual telur.
  
 Musim penghujan juga merupakan masa-masa perkembangbiakan walet, sehingga secara otomatis telur banyak tersedia. Berdasarkan pengalaman penulis, masa bertelur walet sekitar bulan Januari, Februari, September, Oktober, dan November. Sementara itu, masa bertelur sriti biasanya  di luar bulan tersebut. Pada bulan Maret, April, dan Mei, walet dan sriti biasanya memasuki masa bertelur yang bersamaan. Pembelian telur walet yang tepat sebaiknya pada waktu sriti dan walet memasuki masa bertelur bersamaan. Saat seperti ini merupakan saat yang tepat untuk budi daya walet dengan cara mengganti telur sriti dengan telur walet dan keberhasilan penetasannya bisa mencapai 100%.
   
 Pembelian telur walet biasanya menginginkan  telur dengan kondisi baik dan berumur cukup tua. Dengan demikian, pedagang atau pengepul telur walet harus menyimpan terlebih dulu telur muda yang didapatkannya ke dalam mesin tetas dalam waktu yang  relatif lama. Menurut penulis, jika terlalu lama disimpan di luar mesin tetas, telur bisa menjadi tidak sehat, rusak, bahkan embrionya mati.
   
 Daya tetas telur tua di dalam sarang walet lebih bagus dibandingkan dengan telur tua di dalam mesin tetas. Hal ini disebabkan suhu badan induk walet saat mengerami telur lebih sesuai dibandingkan dengan suhu di dalam mesin tetas. Persentase daya tetas telur yang dierami oleh induk burung sekitar 90-100%, sedangkan daya tetas telur di dalam mesin tetas hanya sekitar 60%.
   
 Jika dibandingkan dengan telur tua, telur muda lebih tahan ditempatkan di luar atau tidak di dalam mesin tetas. Penulis pernah mendapatkan pengalaman yang tidak sengaja tentang penempatan telur di luar. Waktu itu, di rumah penulis sedang “kebanjiran” telur walet. Dari 400 butir telur tua (200 pasang) yang dibiarkan  selama lima hari di luar, setelah diperiksa ternyata tersisa 30-50 butir (15-25 pasang) telur yang kondisinya masih bagus dan bisa ditetaskan. Sementara itu, dari 400 butir telur muda (200 pasang), setelah diperiksa tenyata masih tersisa 200 butir (100 pasang) telur yang bisa ditetaskan. Hal ini tentunya bisa dijadikan pedoman bahwa telur yang berumur tua lebih tinggi risiko kegagalannya jika  ditetaskan dengan mesin tetas dibandingkan dengan telur muda.
  
  Penjualan telur walet dari Jawa Timur sudah merambah sampai ke luar Pulau Jawa. Pengiriman telur walet dari Pulau Jawa ke Pulau lain dilakukan dengan cara  menempatkan telur di packing busa atau spon berbentuk persegi panjang dan diberi lubang seukuran telur walet (1 x 1 cm) dengan jarak antarlubang 1 cm. Satu buah packing busa berisi sekitar 100 pasang atau 200 butir telur. Setelah dimasukkan ke lubang-lubang packing busa, selanjutnya telur dimasukkan  ke dalam kardus atau kotak karton tebal. Kondisi telur walet yang dikirim harus fresh atau baru diambil dari sarang walet. Jika akan membawa telur walet yang jaraknya cukup jauh, sebaiknya dipilih telur yang berumur cukup tua. Hal ini disebabkan telur tua lebih tahan goncangan dibandingkan dengan telur muda. Kematian embrio telur akibat goncangan ini bisa mencapai 80%.

Telur Sriti

Jumlah telur yang dihasilkan sriti dalam sekali bertelur tidak berbeda dengan jumlah yang dihasilkan walet, yakni dua butir.  Jarang sekali sriti menghasilkan satu butir saja, kecuali ada kondisi yang mempengaruhi ketenangan induk ketika melakukan proses  pembentukan telur. Kondisi yang mempengaruhi itu seperti polusi suara di dalam bangunan rumah walet, gangguan hama, polusi udara (aroma menyengat) di dalam bangunan rumah walet, serta kesediaan pakan sriti  yang sangat minim.

    Telur yang dihasilkan sriti biasanya berbentuk bulat dan pendek. Panjangnya sekita 1,7 cm dan diameternya sekitar 1,1 cm. Berat telur sriti per butirnya tidak jauh beda dengan  berat telur walet, yakni sekitar 5,0-6,0 gram. Telur sriti yang dierami oleh induknya umumnya akan menetas setelah 16-21 hari.

Telur Walet

Pada umumnya, sekali bertelur walet menghasilkan dua butir telur. Jarang sekali walet hanya menghasilkan satu butir telur, kecuali terdapat kondisi yang mempengaruhi ketenangan induk saat proses pembentukan telur. Kondisi yang mempengaruhi tersebut di antaranya polusi suara di dalam bangunan rumah walet, gangguan hama, polusi udara (aroma menyengat)  di dalam bangunan rumah walet, dan ketersedian pakan walet yang sangat minim.

    Telur yang dihasilkan walet umumnya berbentuk lonjong dan oval. Menurut pelaku budi daya walet, bentuk telur lonjong akan menjadi walet jantan, sedangkan bentuk oval akan menjadi walet betina. Meskipun demikian, kebenaran akan hal ini masih belum bisa dibuktikan. Warna telur walet biasanya cenderung berubah, tergantung dari umurnya. Telur walet umur muda atau yang baru dihasilkan induk (0-5 hari) biasanya berwarna merah muda, telur walet yang berumur 6-10 hari berwarna putih kemerahan, dan telur yang berumur 10-15 hari (mendekati saat menetas) berwarna putih pekat. Panjang telur walet sekitar 2,20 cm dan diameternya sekitar 1,36 cm. Berat telur walet 5,0-6,0 gram. Telur walet yang dierami oleh induknya biasanya akan menetas setelah 16-21 hari.

Telur Walet dan Telur Sriti

Telur merupakan sel yang tumbuh dari sel induk (oogonium) di dalam indung telur (ovarium). Sesudah pembelahan sel induk dan pembelahan susut, terbentuk empat sel, yang di antaranya terdapat satu sel yang tumbuh menjadi sel telur, ketiga anak sel lainnya membentuk jaaringan yang mengelilinginya. Di dalam telur, kuning telur merupakan sel telur. Sesudah pembuahan inti, terbentuklah embrio. Sisa kuning telur dan putih telur merupakan makanan embrio. Selanjutnya, setelah bertelur, induk walet akan mengeraminya.

Burung Sriti

Nama umum sriti (Collocalia esculenta) adalah glossy swiftlet atau walet berperut putih. Di Pulau Jawa, burung ini lebih sering disebut sriti atau walet sapi. Sepintas, sosok sriti hampir sama dengan walet gua (cave swiftlet) atau Collocalia linchi. Ukuran tubuhnya sekitar 10 cm. Tubuh bagian atas berwarna hitam kehijau-hijauan dan tubuh bagian bawah berwarna abu-abu gelap.

    Bagian perut sriti yang berwarna putih merupakan ciri khas yang membedakan sriti dengan kelompok walet lainnya. Selain dari warna perutnya, sriti bisa  dikenali dari lengkingan yang dihasilkannya, yakni suara “ciir-ciir” yang tinggi. Sriti senang sekali terbang secara kelompok dan terdapat hampir di semua ketinggian tempat.

    Sarang sriti tersusun dari bahan berupa dedaunan, rumput kering, atau bagian tanaman lain yang direkatkan dengan air liurnya. Sarang sriti umumnya terbentuk tidak beraturan. Walaupun terdiri dari beberapa campuran bahan, sarang sriti masih bisa dikonsumsi. Namun, sebelum dimanfaatkan, campuran dedaunan, rumput kering, dan ranting harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cara khusus.

    Daerah penyebaran sriti meliputi Nias, Batu, Mentawai, Enggano, Sumatera, Pulau Lingga, Belitung, Kalimantan, Jawa, Kepulauan Seribu, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Timor, Selayar, Sulawesi, Riau, Tidore, Halmahera, Ambon, dan Papua. Di habitat aslinya, sriti senang membuat sarang di tempat yang kondisinya agak terang, yakni di sekitar mulut gua, di celah-celah bebatuan, dan di sudut-sudut bangunan atau jembatan. Selama perkembangbiakannya, pada umumnya sriti menghasilkan dua butir telur.