Tampilkan postingan dengan label Habitat Walet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habitat Walet. Tampilkan semua postingan

Burung walet dan habitatnya

Tiap-tiap mahluk hidup pada prinsipnya menentukan area berkembangbiak yang safe serta nyaman. demikian juga burung walet, hingga walet menentukan area yang mencukupi syarat serta cocok dengan habitat aslinya.

Hingga walet menentukan gua-gua alam serta bangunan spesifik sebagai area pengembangan populasinya. makin safe serta nyaman tempatnya maka makin jadi tambah juga jumlah populasinya.

Area yang cocok dengan habitat walet yaitu bersuhu 26-30 c, berkelembaban hawa 80-90% serta dekat dengan area ia melacak makan.

Tidak cuma itu saja namun mesti safe dari masalah, binatang predator, terlindung dari terpaan angin, terik matahari, hujan serta sinar yang terang.
sinar didalam rumah walet tidak bisa melebihi 2fc ( foot candle ) setara dengan sinar 2 buah lilin.

Oleh karena itu dibutuhkan satu perlakuan spesial untuk memancing walet atau melindungi serta mengembangkan populasi walet pada bangunan yang telah dimasuki walet.

Perlakuan spesial itu layaknya : ukuran bangunan, bak tampung air, lubang ventilasi, ukuran lubang, bau-bauan, mesin kabut, pemberian serangga dari makanan yang dibusukkan, nada walet serta yang lain memanglah mutlak mesti dikerjakan.

Memancing walet

Sebelum membangun rumah walet, peminat budidaya walet perlu mengerti perilaku dan sifat biologis burung walet. Burung walet tidak tahan dingin, tidak menyukai suhu yang berubah-ubah, sangat peka terhadap bau asap belerang, gas, bensin, asap rokok, cat, dan bau pestisida. Lokasi rumah walet harus tenang, bebas kebisingan, terhindar dari gangguan binatang atau manusia. Sekali saja terganggu, mereka akan pergi tak kembali lagi.

Walet biasanya berburu makanan (serangga) mulai pukul 05.00 pagi sampai jam 11.00 lalu mencari kawasan perairan untuk minum hingga pukul 15.00. Kemudian berburu lagi sampai sore lalu pulang sekitar jam 18.00.

Ada tiga daerah yang cocok untuk membangun rumah walet, yaitu: (1) Daerah hunian walet: terdapat banyak rumah walet, minimal 3-5 rumah; (2) Daerah perburuan: terdapat banyak sumber makanan dan air: (3) Daerah lintasan terbang walet dari sarang ke lokasi perburuan dengan frekuensi minimal 10 ekor per menit.
Rancangan bangunan rumah walet harus sesuai dengan kebiasaan walet. Suasana ruangannya dibuat seperti kondisi gua sarang walet yang alamiah. Kelembaban ruangan sekitar 80-95%, suhu sekitar 26º-28ºC, berbau dan gelap. Dengan demikian, walet akan betah menghuni rumahnya

Sumber:

Walet tak mau turun

Saya sering mendapat pertanyaan dari banyak member, “ Pak Arief, sudah 3 bulan ini saya mulai operasionalkan gedung walet dengan memakai suara Green Wave 01. Selama itu pula banyak walet yang datang, tapi hanya masuk-keluar, masuk-keluar di rumah monyet saja. Walet hanya muter-muter saja  di dalam rumah monyet, tak mau turun…ke lantai bawahnya. Saya lihat dari camera CCTV, walet yang masuk-keluar sebenarnya  banyak sekali, sangat menggembirakan,  tapi yang turun ke lantai bawah tidak lebih dari 5 ekor walet saja. Apanya yang salah?

Pertanyaan yang lain, “ Pak Arief, sudah 9 bulan  ini populasi walet saya stagnan, tidak berkembang, hanya (sekitar) 6 sarang. Bangunan saya 4 lantai, ukuran 10 m X 16 m, dengan bagian atas ada kotak sabun seluas 6 m X 8 m. Bagaimana agar populasi walet saya meningkat? Tanya Yuli,  di Teluk Batang-Kalimantan Barat

Yang lebih parah lagi, dialami member saya di Jl. Nanas Dumai-Riau. Gedungnya kosong hampir 4 tahun. Sumber errornya ternyata di rumah monyet.

Seperti sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, bahwa sebaiknya untuk membangun gedung walet tak perlu pakai rumah monyet. Yang dimaksud rumah monyet ini yaitu  bangunan kotak di atas gedung walet. Sebagian orang menyebut, kotak sabun, bok, atau menara.

Tujuan membangun rumah monyet, antara lain agar bisa menekan faktor cahaya yang masuk ke dalam ruang nesting room. Atau agar lebih tinggi dari pada gedung walet pesaing di sebelahnya.  Sampai sekarang masih banyak yang bertanya ke saya “ Pak Arief lebih bagus mana bangunan gedung walet yang pakai rumah monyet dengan yang tak pakai?” Saya jawab silahkan pakai rumah monyet jika terpaksa.
Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan  dalam artikel ini. yaitu manfaat pakai rumah monyet, antara lain :

Posisi gedung walet jadi lebih tinggi dari gedung tetangga. Ini sangat menguntungkan karena walet akan lebih mudah menghampiri gedung yang lebih tinggi. Dengan kata lain, karena posisi lebih tinggi, akan memberi nilai plus dalam memanggil walet. Ini karena koloni walet lebih mudah untuk “melihat” lubang masuk.

Juga, koloni walet yang berkeliling di sekitar rumah monyet, akan menjadi daya tarik sendiri bagi koloni walet lainnya yang ada di kejauhan untuk ikut datang bergabung. Area yang cukup luas di sekitar rumah monyet, memberi kesempatan yang leluasa bagi koloni walet untuk berputar-putar dimana hal ini menjadi daya tarik bagi walet lain untuk ikut datang ke gedung ini.

Selain itu,  dengan rumah monyet juga bisa menekan cahaya yang masuk gedung, apalagi jika bangunan tersebut hanya 2 lantai.

Namun ada beberapa catatan problem rumah monyet,  antara lain
Dengan adanya rumah monyet, maka walet hanya ada 1 pilihan saat masuk ke dalam gedung. Untuk menuju nesting room  walet harus menukik. Bagi burung muda ini tentu sangat menyulitkan. Walet muda umumnya belum mahir untuk terbang menukik.  Burtng walet yang terpanggil masuk gedung, untuk bisa masuk ke nesting room, tidak ada pilihan lain, selain harus turun. Padahal, sebenarnya, naluri walet yang masuk ke gedung  akan cenderung terbang ke atas. Jika dengan rumah monyet, maka sepertinya itu memaksa walet untuk menanggalkan nalurinya terbang ke atas, dan berbalik  harus terbang ke bawah.



Ini bagi walet tentu tidak mudah. Walet perlu waktu untuk belajar. Maka yang kita lihat, walet menghabiskan waktunya dengan hanya berputar-putar saja di langit-langit rumah monyet, tak mau turun.

Bandingkan dengan jika gedung walet tanpa rumah monyet. Desain tanpa rumah monyet tentu  memberi kemudahan bagi walet untuk memilih. Bagi walet muda, mau terbang lurus ke depan, atau belok ke samping sudah langsung masuk ke  nesting room. Walet juga bisa langsung menempel di twiter inap lalu segera “duduk” di sarang imitasi. Sementara, bagi walet yang sudah bisa menukik, juga silahkan menjangkau ruangan yang lebih gelap di lantai bawah.  Dengan memberi 2 alternatif ini, fase adaptasi walet pada gedung baru akan  lebih mudah.

       Kasus yang sering membikin pusing peternak walet, yaitu melihat walet hanya berputar-putar di dalam rumah monyet di sebabkan antara lain :

 a.    Di rumah monyet di pasang twiter
Tidak sedikit yang menganggap semakin banyak twiter semakin akan efektif memanggil walet masuk gedung, termasuk   di rumah monyet-pun dipasang 2 sampai 6 twiter. Padahal sebenarnya, di rumah monyet selain tak perlu dipasang papan sirip juga jangan dipasang twiter. Ini akan membuat walet menempel di twiter rumah monyet, tak mau turun ke bawah.  Ini seperti dilakukan member saya di Airmadidi, Minahasa utara–Manado. Tujuannya agar walet banyak masuk, tapi akibatnya walet banyak menempel di papan sirip rumah monyet.


b.    Twiter di void rumah monyet terlalu banyak/ terlalu nyaring.
Pada void / lubang turun di rumah monyet harus dipasang suara panggil, agar walet yang telah masuk   segera tertarik untuk turun ke bawah. Namun maksimal hanya 2 twiter saja, itupun dengan suara yang tidak nyaring. Jika suara terlalu keras, maka gema suara akan memenuhi rumah  monyet, sehingga mengakibatkan walet tidak turun, karena suara sangat bising. Jadi walet hanya berputar-putar di dalam rumah monyet saja. Suara twiter di void harus lebih rendah dibanding volume   di lubang masuk.


c.     Di rumah monyet terdapat lebih dari 1 lubang masuk.
Rumah monyet dengan lebih dari 1 lubang masuk, juga akan mengakibatkan walet hanya masuk dari pintu A dan segera keluar melalui pintu B. Itu akan terjadi berulang kali.  Walet jadi tidak konsentrasi menukik ke bawah. Pada gedung baru, atau pada pemancingan awal, lubang masuk lebih dari 1 akan memperlambat walet menjangkau nesting room. Kenapa? Karena walet konsentrasinya pecah, disebabkan ada lubang lain yang sejajar atau  berdekatan. Jadi,  begitu walet masuk gedung, berputar-putar  bukan turun tapi keluar lagi melalui pintu lain. Menurut saya, sebaiknya, gedung walet cukup 1 lubang masuk saja. Penjelasan ini  sudah saya tulis pada artikel sebelumnya. 

Suatu sore, ada telepon masuk ke Hp saya, “ Pak Arief, baru 1 minggu ini saya buka gedung walet.  Saya pakai Green Wave 02. Luar biasa walet yang datang. Tapi kenapa walet hanya sedikit yang  mau turun ke lantai bawah? Hanya berputar – putar di rumah monyet saja? Padahal, ukuran rumah monyet 3 m x 3m, tinggi 2 m. Void 2 m x 2 m, dengan 1 twiter panggil di void. Untuk suaranya sudah saya atur volume sedang. Apa masih ada yang kurang sehingga hanya sedikit walet yang  mau turun?

Ini kasus spesifik. Pasti ada sesuatu sebab yang membuat walet tak banyak turun. Saya tak bisa memberi solusi  secara akurat  karena informasi yang disampaikan hanya via telepon. Pada kasus tersebut saya harus lihat gedungnya, agar saya tahu secara detail permasalahannya.

Memang bagaimanapun, gedung walet (baru) yang pakai rumah monyet akan memiliki tingkat kesulitan yang lebih bagi walet (saat adaptasi awal) dibanding  gedung   yang tanpa rumah monyet. Apalagi walet yang masih usia muda, dimana  sebagian besar  belum punya …..SIM,  Surat Ijin Menukik.. he he he
Sumber:
http://duniawalet.com

Burung Walet

Walet (Collocalia  fuciphagus) disebut walet putih atau edible-nest swiftlet. Hal ini disebabkan sarang yang dihasilkan berwarna putih dan bisa dimakan. Sarang walet putih ini lebih populer sebagai bahan masakan sup sarang burung. Disebabkan manfaatnya tersebut,                 C. fuciphagus banyak yang diincar untuk dibudidayakan dan dipanen sarangnya.

    Ukuran panjang tubuh walet putih sekitar 12 cm. Tubuh bagian atas berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan kombinasi warna abu-abu pucat atau cokelat. Sementara itu, bagian bawah tubuhnya berwarna cokelat. Belahan ekornya agak dalam. Daerah penyebaran walet putih meliputi Pulau Nias, Batu, Banyak, Mentawai, Sumatera, Belitung, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, Sumba, Timor, dan Sulawesi. Tempat hidup atau ekologinya  adalah di areal terbuka, pesisir, batu-batu karang pinggir pantai, dan daerah perkotaan. Di habitat alaminya, walet putih berkembang  biak dan membuat sarangnya di gua-gua yang berketinggian antara 0-2.800 m di atas permukaan laut.

    Gaya terbang walet putih ketika mencari makan tampak kaku, mirip dengan gaya terbang spesies walet sarang lumut (Aerodramus vanikorensis) dan walet sapi/sriti (Collocalia esculenta). Di dalam perkembangbiakannya, walet putih umumnya menghasilkan dua butir telur. Telur ini berbentuk oval dengan kerabang berwarna putih. Walet putih membuat  kelenjar saliva. Lama-kelamaan  air liur yang dihasilkan oleh Kristal. Komposisi bahan sarangnya murni dari air liur tanpa campuran bahan lainnya.

Walet, sang pemburu serangga

Walet dan sriti sengaja dipaparkan di sini karena secara alamiah kedua burung ini berperan sebagai induk dalam penetasan. Dalam beternak atau budi daya walet melalui perlakuan ganti telur atau putar telur, kedua jenis burung ini diupayakan untuk menetaskan telur dengan cara dierami atau penetasan  alami. Walet (Collocalia fuciphagus) berperan mengerami telurnya sendiri, baik sebelum sarangnya dipanen maupun sesudah dipanen dengan cara  mengganti sarang walet asli dengan sarang walet imitasi. Sementara itu, sriti (Collocalia esculenta) lebih berperan sebagai induk asuh. Maksudnya, telur yang  dihasilkannya akan diganti dengan  telur walet (perlakuan ganti telur) dan burung ini akan merawat anak walet yang lahir sampai bisa terbang sendiri.

    Walet dan sriti termasuk kelompok burung pemburu serangga yang mencari pakan sambil beterbangan. Kelompok burung ini memiliki ciri sayap yang melengkung panjang seperti sabit, ramping, dan didominasi oleh bulu berwarna gelap atau hitam. Umumnya, kelompok burung ini menghabiskan waktunya hamper sepanjang hari di udara. Dengan kata lain, burung ini tahan terbang berjam-jam. Bahkan, beberapa spesies bisa tidur ketika terbang.

    Secara umum, ciri-ciri burung yang dikelompokkan dalam keluarga walet sebagai berikut.
1.    Daya jelajah  atau kemampuan terbangnya hingga ratusan kilometer dengan kecepatan mencapai 150 km/jam
2.    Sayapnya panjang dan runcing.
3.    Tubuhnya ramping mirip burung gereja. Struktur tubuh ini sangat cocok untuk menghalau arus udara dari depan atau bersifat aerodinamis.
4.    Panjang tubuhnya  antara 9-15 cm.
5.    Ekor umumnya  bercabang dua dengan  belahan yang bervariasi, yakni ada yang dalam dan  ada yang dangkal.
6.    Mata bulat dan cekung.
7.    Ukuran paruhnya relatif kecil.
8.    Indera penciumannya sangat tajam. Aroma yang hampir tidak tercium oleh manusia, bisa tercium oleh kelompok walet, khususnya spesies Collocalia fuciphagus.
9.    Kaki berukuran sangat kecil dan strukturnya sangat lemah, sehingga tidak cukup kuat untuk berjalan. Namun, justru struktur kaki seperti ini membuat burung ini mampu merayapi dinding-dinding gua yang kasar, terutama saat membuat sarang.
10.    Pakannya berupa serangga-serangga kecil yang beterbangan di udara dan ditangkap sembari terbang.

Populasi Burung Walet Menurun

Sebelum menguraikan permasalahan budi daya walet melalui penetasan telur, baik secara alami maupun secara buatan, ada baiknya kita membahas dulu masalah habitat asli walet yang berupa gua kapur (darat) dan gua di tebing-tebing karang (abrasi) yang umumnya terletak di lepas pantai terutama di laut selatan. Kondisi di dalam gua yang dihuni walet umumnya relative basah dan kelembapannya tinggi. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan walet, yakni sebagai burung liar, walet lebih banyak hidup di wilayah iklim tropis basah.

Gua merupakan hunian asli walet sebelum pindah ke habitat baru, seperti rumah-rumah tua dan bangunan yang sengaja dibangun oleh manusia untuk membudidayakannya. Saat ini, walet gua nyaris punah kerana ekseploitasi yang tidak memperhatikan kelestarian hidup atau regenerasi burung penghasil “emas putih” ini. Konon, sarang walet yang berasal dari gua mulai di ekplotasi oleh pemburu sarang sekitar awal abad ke-18. Sebelumnya, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa sarang walet bisa di konsumsi dan dijadikan komoditas yang bisa diperdagangkan.

Dari tahun ke tahun populasi walet di habitat aslinya cenderung menurun. Bahkan, beberapa gua di Pulau Jawa dan di Kalimantan kondisinya sangat memprihatinkan dan di sana walet sudah tidak lagi ditemukan atau sudah punah. Dampak dari kondisi seperti ini membuat volume produksi sarang walet alam menurun secara draktis. Contohnya, gua yang berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pada zaman penjajahan Belanda, keberadaan walet sebagai penghuni gua belum terusik. Dalam satu periode petik atau panen, bisa diperoleh sarang walet hingga 1,5 kuintal. Namun, sekarang setelah populasi walet merosot, sarang yang diperoleh hanya tinggal beberapa kilogram. Contoh lainnya, pada tahun 1913, di Gua Gajah, di Cibinong, Bogor, Jawa Barat populasi walet terhitung sekitar 250.000 ekor. Namun, dari hasil pengamatan ulang yang dilakukan pada januari 1979, populasinya menurun dan hanya tersisa sekitar 30.000 ekor.

Kondisi gua walet yang berada di wilayah Kalimantan Timur, tidak jauh berbeda dengan kondisi gua di Pulau Jawa. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Kantor Wilayah Perdagangan  dan Perindustrian Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Universitas Mulawarman, gua yang dihuni walet sejumlah sekitar 48 buah. Dari ke-48 gua ini, volume produksi sarang walet yang dipanen dari tahun ke tahun semakin merosot. Penelitian tentang penurunan volume produksi ini juga diperkuat dari hasil polling yang dilakukan di sana. Tujuh puluh tiga persen responden  menyatakan volume produksi sarang di Kalimantan Timur cenderung menurun, 23% menyatakan stabil,  dan 4% menyatakan meningkat.

Pemetikan sarang yang tidak menaati aturan kelestarian atau regenerasi walet di habitat aslinya, selain berdampak kepunahan populasi walet, menyebabkan kemerosotan volume produksi atau hasil sarangnya. Pemetikan sarang walet banyak yang tidak menaati waktu petik sarang rampasan, buang telur, atau penetasan. Penyebab lain adalah kondisi lingkungan di sekitar gua yang tidak lagi bersahabat bagi perkembangan walet. Contohnya, pepohonan yang tumbuh di sekitar gua gundul akibat penebangan liar. Namun, penyebab ini tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan cara pemetikan sarang walet yang terlalu ngawur atau sembarangan.Kita sering mendengar berbagai kejadian yang berkaitan dengan pemungutan atau pemetikan sarang walet dari gua-gua sebagai habitat asli walet. Ada kejadian yang mengenaskan, seperti beberapa pencuri sarang walet tewas di dalam gua karena terjebak banjir bandang atau terjatuh dari tebing. Sementara itu, di Sumatera Utara terjadi pertengkaran antara anggota DPRD dan masyarakat di sekitar  gua walet karena memperebutkan hak pengolahan sarang walet berkaitan dengan otonomi daerah. Berbagai kejadian pencurian sarang walet dan perebutan hak pengelolaan seperti ini menjadi salah satu penyebab rusaknya habitat dan hancurnya kelestarian walet.

Pada zaman pemerintahan Kaisar Ming (sekitar abad ke-14), perburuan sarang walet sudah dilakukan. Pada masa itu, pemburu sarang walet mendatangi gua-gua tebing (abrasi) yang ada di sepanjang pantai Laut Cina Selatan. Kemudian pencarian sarang walet ini meluas sampai ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, Madura, Sulawesi, dan beberapa derah di kepulauan Indonesia lainnya.

Di Indonesia, cikal bakal perburuan sarang walet di habitat aslinya diperkirakan sudah ada sejak tahun 1700-an, yakni di Gua Karang Bolong yang terletak di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tidak lama kemudian, pencarian sarang walet mulai menyebar ke beberapa daerah , seperti Gresik dan Tuban ( Jawa Timur); Rembang, Tegal, Semarang, dan Lasem (Jawa Tengah); dan di pinggiran pantai utara Jawa. Selain di Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, Riau, Sulawesi Selatan, serta Nusa Tenggara Timur dan Barat juga memiliki kekayaan sarang burung gua yang dihasilkan oleh walet sarang putih (Collocalia Fuciphagus) dan walet sarang hitam (Collocalia Maximus).

Penduduk yang tinggal di sekitar Gua Kali Baru, di Malang Selatan, menceritakan bahwa awalnya tidak ada satupun penduduk yang tahu jika gua yang dihuni burung cokelat itu bisa menghasilkan sarang dan dijual dengan harga jutaan rupiah. Penduduk di sekitar gua itu justru menangkap  penghasil sarangnya atau waletnya  untuk dimasak. Sekali menangkap, mereka bisa memperoleh puluhan ekor walet. Kekurang-pengetahuan masyarakat mengenai perilaku dan kehidupan walet ini juga menjadi penyebab menurunnya populasi walet di habitat aslinya.

Jumlah gua darat (kapur) yang dihuni oleh walet lebih sedikit dibandingkan dengan gua abrasi. Dengan demikian, jumlah populasi walet di gua abrasi tentu lebih banyak. Di Pulau Jawa, jumlah gua darat dan gua abrasi yang dihuni walet sekitar 300 buah. Beberapa di antaranya Gua Karang Bolong, Karang Pasir, dan Karang Duwu. Sementara itu, gua yang ada di luar Pulau Jawa sampai saat ini belum terdeteksi berapa jumlahnya. Hanya beberapa gua di pantai timur Provinsi Jambi, gua di pesisir Kalimantan Timur, pesisir Aceh, Lampung, dan Sumbawa yang sudah terdeteksi.